Feeds:
Tulisan
Komentar

Mbah Tongah, demikian Beliau biasa dipanggil. Seorang wanita tua berumur tujuh puluhan tahun. Berbadan kecil dan pendek, namun tangan dan kakinya tampak begitu kuat. Maklum, Beliau adalah seorang tukang pijat di belakang rumahku. Beliau tinggal seorang diri di rumah papannya yang sederhana, karena beberapa tahun yang lalu suaminya telah berpulang  dan Beliau tidak dikaruniai seorang anak pun!

Namun, dalam kesendiriannya, Beliau tampak tegar dan ikhlas menjalani hidup. Denga memberikan jasa pijat Beliau mampu menyambung hidupnya. Ada beberapa pelajaran yang memaksa saya bermuhasabah melihat sosok wanita “hebat” ini.

Mungkin Anda bertanya,”apa sih hebatnya seorang tukang pijat?”

Setiap pagi antara jam 2 dini hari, beliau sudah mandi dan langsung mengawali harinya dengan melakukan sholat tahajud dan dirangkai dengan wirid-wiridnya hingga saatnya Adzan Shubuh Beliau langsung berlali dengan tubuh mungilnya untuk menuju masjid berjamaah shubuh.

Kemudian, sebelum Beliau berangkat “dinas”, pasti Beliau sempatkan untuk melaksanakan sholat sunnah Dzuha, “Ben, berkah,Nduk!” kata Beliau suatu hari kepada saya. Wuih…sungguh istiqomahnya!

Satu hal lain yang saya harus belajar dari Beliau adalah kebiasaannya berinfaq membagikan masakannya kepada hampir semua tetangga di kanan-kiriku, yang kadang-kadang membuatku sungkan menerimanya!

Lain lagi ceritanya di hari Idul Adha yang lalu, dengan semangat saya bergegas membawakan sebungkus daging korban dari sekolah yang sebelum kuberikan untung sempat kubuka, karena dagingnya cuma sedikit dan lebih banyak tulangnya! Ketika kuberikan bingkisan itu Beliau langsung menghadiahiku semangkung gulai yang masih “kebul-kebu” yang langsung diambil dari panci yang masih di atas kompor, sambil berkata:”Nduk, iki tak wenehi masakanku, aku mau korban!”

Deg!Terhenyak aku mendengarnya, lalu aku bertanya;”Korban,Mbah?”"He..eh!”; jawab Beliau. Kulanjutkan menyelidik;” Regine pinten,Mbah, kambinge?”(berapa harga kambingnya,Mbah?)

“Wolung atus seket ewu!”(delapan ratus limapuluh ribu), kata Beliau!

Subhanalloh,aku terdiam sejenak! Lalu kuucap tasbih dan istighfar. Tasbih karena aku kagum dengan kesungguhan dan keikhlasan Bu Tongah dalam semangatnya berkorban. Bayangkan, berapa puluh kali memijat agar Beliau bisa membeli seekor kambing untuk berkorban? Kurang lebih 80 kali memijat, bila kita perkirakan!

Lalu kubandingkan dengan diriku sendiri! Mengapa aku belum bisa berkorban tahun ini? Padahal kalau aku punya sidqunniyyah, niat yang kokoh, pasti bisa kusisihkan uang untuk berkorban. Yah, masih lebih banyak yang lebih kudahulukan, kebutuhan untuk anak-anakku, untuk inilah, itu lah…….. Lanjut Baca »

Beberapa hari yang lalu saya beruntung mendapat kesempatan mengikuti pelatihan Seven Habits of Highly Effective People yang diselenggarakan oleh KPI. Disamping pematerinya yang cukup “nyentrik”, nyentrik karena Beliau seorang ibu berusia 46 tahun yang biasa berbahasa “gaul” ala para pemain sinetron, namun apa yang Beliau sampaikan lebih menarik perhatian saya dan memaksa saya untuk merenung.

Saya baru tahu bahwa nilai-nilai yang disajikan oleh sang pendeta Steven Coffey ternyata adalah “mutiara-mutiara ajaran Islam” yang dikemas ulang oleh sang penulis. Coba kita telaah beberapa poin dari tulisannya tersebut:

Coffey menekankan bahwa seseorang yang akan berhasil menjadi seorang pemimpin adalah sesosok pribadi yang dapat dipercaya sehingga dalam hubungannya dengan orang lain(antar pribadi) ia akan mendapatkan kepercayaan. Bila seseorang sudah mendapatkan kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya maka ia akan mampu memberdayakan lingkungannya dengan memainkan peran manajerialnya sehingga akan tercipta sebuah keselarasan.

Bukankah prinsip bisa dipercaya ini merupakan cikal-bakal kenabian Rosululloh? Bukankah Al Amin adalah gelar pertama Rosululloh sebelum gelar kenabian itu dianugerahkan Alloh pada Beliau?

Selanjutnya pada bagian Emotional Bank Account( Rekening Bank Emosi ) saya simpulkan bahwa haruslah seseorang itu menebar kebaikan sebanyak-banyaknya karena kebaikan itu akan kembali pada dirinya sendiri.

Coba ingat firman Alloh: Wa man yasykur fa innamaa yasykuru li nafsik. Barang siapa yang bersyukur maka sebenarnya ia telah bersyukur untuk dirinya sendiri. Alloh juga berfirman dalam banyak ayat:”Walloohu yuhibbul mukhsiniin” Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik!

Pada prinsip-prinsip yang lain Coffey menekankah ajaran tentang bersifat proaktif untuk memperbesar pengaruh kebaikan kita kepada lingkungan kita. Akan lebih sulit bagi kita mengubah orang lain seperti yang kita inginkan, namun akan lebih mudah bila kita memperbesar pengaruh kita kepada mereka. Kita harus berfungsi seperti magnet yang mampu mempengaruhi orang lain untuk menjadi lebih baik.

Saya jadi teringat prinsip tauladan yang diajarkan Junjungan kita SAW. Ibda’ binnafsik! Mulailah dari dirimu sendiri. Kemudian pada hadits yang lain Beliau bersabda yang artinya : Barangsiapa mengawali sebuah kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala sebanding dengan pahala orang lain yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya!”

Pada bagian yang lain Coffey mengangkat pentingnya kita mendahulukan sesuatu yang lebih utama. Ingatkah Anda dengan fiqh auilawiyat dalam ajaran Islam? Kita dituntut untuk mendahulukan yang lebih utama dan meninggalkan yang tidak bermanfaat. Bahkan dalam beberapa haditsa Rasululloh memnandai kesempurnaan seseorang dengan kemampuannya meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat: “Min khusnil islaami mar’i tarkuhu maa laa ya’nih”.

Pada bagian “Memulai dari tujuan akhir” ditekankan bahwa segala sesuatu tindakan kita harus selalu mengaca pada tujuan akhir kita. Prinsip “see-do-get” mengajak kita untuk meninjau cita-cita ,tujuan, keinginan kita, menentukan langkah yang ditempuh untuk mencapainya agar kita mendapatkan hasil yang kita harapkan. Seorang yang selalu melihat tujuan akhirnya akan lebih selektif memilih langkah-langkah yang ditempunya, memilah-milah mana yang kan menyamapaikannya ke tujuan akhir, ataukah malah menghambat tujuan akhirnya?

Seorang Muslim yang memahami tujuan akhir hidupnya seperti dalam QS. Adz Dzariyaat 56: “Dan tidaklah Aku (Alloh) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu!, tentunya kan berrhati-hati dalam hidupnya. Berusaha menjalani hidup sesuai jalan yang akan menghantarkannya menjadi Hamba Alloh tersebut.

Prinsip yang lain adalah “Berpikirlah untuk sama-sama menang!” Filosofinya adalah dalam menghadapi setiap masalah kita harus mencari solusi terbaik yang akan membawa kebaikan bagi semua orang, mengesampingkan keegoan pribadi dan berpikir untuk kemaslahatan bersama. Tahukah Anda bahwa salah satu kaidah Islam yang ada adlah berusaha memperbanyak kemanfaatan dari setiap hal dan menghilangkan kemafgsadatan (keburukan) darinya?

Nah, pada prinsip terakhir Coffey mengajak para pembacanya untuk selalu “Mengasah gergaji mereka masing-masing”. Maksudnya kita tidak boleh merasa cukup dengan apa yang sudah kita kuasai dan  miliki sekarang. Kita harus semakin baik dan baik dari hari ke hari. Keilmuan kita harus terus bertambah. Bila saya menghayati pesan ini, kembali say teringat hadits Rosul” Orang yang beruntung adalah yang lebih baik dari kemarin. Orang yang rugi adalah  yang hari ini sama dengan kemarin. Dan orang yang celaka adalah yang hari ini lebih buruk dari kemarin!”

Demikianlah, saya tercenung dan bergumam,”Subhanalloh!” Maha suci Alloh yang telah meridzoi agama sempurna ini sebagi pilihanNya untuk seluruh umat manusia! Memang hikmah-hikmah yang terserak di manapun adalah hak setipa Muslim untuk mengambilnya, termasuk dari sang pendeta Coffey!

Wallohu a’lam!

Catatan kecil seorang guru

Di suatu siang yang cukup panas, ketika tenaga kami para guru sudah cukup terkuras dengan jam mengajar yang padat. Tiba-tiba kantor kami dhebohkan dengan beberapa “temuan” yang cukup mengejutkan kami. Apa sich temuan -temuan tersebut?

Seperti biasanya kami memeriksa beberapa HP para siswa yang mereka bawa ke sekolah. Memang di sekolah kami semua siswa yang membawa HP harus dengan suka rela mengikhlaskan untuk sewaktu-waktu di”lihat” oleh para guru. Siang itu kami menemukan beberapa foto para siswi yang “open!” Terperanjat kami dibuatnya!

Maklum biasanya kami melihat wajah-wajah mereka rapi terbalut jilbab. Butuh beberapa menit bagi kami untuk meyakinkan bahwa yang nongol di HP itu adalah wajah-wajah polos mereka. Bagi saya, persoalan ini cukup membuat saya tidak bisa memejamkan mata beberapa malam ini. Saya merenung, betapa banyak waktu yang telah kita curahkan bagi mereka untuk mengenalkan mereka pada hukum-hukum Robb-nya! Betapa banyak dalil-dalil Al Qur’an yang telah mereka ketahui tentang kitab suci mereka!

Namun, akhirnya saya sadari bahwa keberhasilan dakwah lewat dunia pendidikan ini bukan merupakan tugas pribadi! Tetapi keberhasilannya memerlukan banyak tangan-tangan yangharus ikut andil menyuburkan dan mengokohkan dakwah itu sendiri.

Saya sadari bahwa semua guru harus saling merapatkan barisan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Al Qur’an dan Sunnah dalam semua mata pelajaran yang diamanahkan kepada mereka. Sehingga, para sisiwa akan terkondisikan pada nilai yang harus mereka praktikkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang muslim. Yang perlu diingat juga adalah perlunya kita para guru memakai “bahasa” yang tepat ketika mengkomunikasikan nilai-nilai keislaman pada merka. Manfaat di balik semua perintah Alloh dan mudzorot di balik semua laranganNya haruslah kita sampaikan dengan terbuka dan logis. Kita harus menghindari indoktrinasi tanpa keterbukaan dan diskusi yang hangat dengan mereka.

Saya sadari bahwa peran orang tua dalam mengharmonikan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah amat sangatlah penting. Ketika orang tua mempunyai standar nilai yang berbeda dari yang ditanamkan di sekolah, maka jangan salahkan mereka jika mereka menjadi sosok yang berkepribadian ganda. Merka akan mampu mencari celah-celah jalan untuk” mempermainkan” nilai-nilai yang mereka terima, seperti contoh kasus yang kami temui di atas!

Saya sadari bahwa kami guru, para pendidik ini ,para pendakwah ini hanyalah sebagai pemberi peringatan dan pemberi nasihat yang tidak boleh pantang menyerah dan harus terus menyampaikan nilai-nilai/hukum-hukum Alloh semampu kami.

In ajriya illa ‘alalloh

in uriidu ilal ishlah mastato’tu

Tidaklah kami berkeinginan kecuali mencari balasan dari Alloh dan mengadakan perbaikan sesuai kemampuan kami!

Saya sadari akhirnya, banyak faktor yang saling mempengaruhi anak-anak kami, keluarga, teman, media massa yang seolah saling berebut pengaruh membentuk watak dan keppribadian mereka dengan nilai-nilai yang sering bertentangan dengan kitabulloh dan sunnaturrosul. Namun, hidahNya jua yang akan berbicara. Iman adalah mutiara yang tidak bisa diwariskan kepada siapa pun!

Wallohu a’lam bis showaab.

Seorang murid menyentak perhatian saya ketika di tengah-tengah “nasihat” saya kepada mereka untuk lebih giat belajar mengahadapi UAN dengan menyeletuk;” Ah, nanti kan bisa mengandalkan bocoran,Bu!”

Deg !! Bergetar dan kaget saya dibuatnya! Termenung , kuhela nafas panjang dan kucoba counter pemikiran “nakal” muridku itu. Saya katakan pada mereka jika memang hanya sebuah nilai yang tertulis bernama nilai UNAS yang mereka inginkan, mengapa mereka harus berlelah-lelah belajar, bahkan berlomba-lomba mengikuti les privat atau bimbingan di berbagai LBB? Semua sia-sia kan? Tinggal siapkan saja jurus “ngrepek” alias nyontek yang sekarang semakin canggih dengan berbagai sarana seperti HP!

Salahkah “celetukan” murid saya tadi? Hanya sebatas guarauankah? Atau benar-benar pemikirannya yang terbersit dalam hati dan ingin ia lakukan sebagai “shortcut” jalan pintas dalam mengerjakan soal-soal UNASnya besok?

Teringat aku akan “rahasia besar” dunia pendidikan kita. Betapa banyak kisah kecurangan pelaksanaan UNAS yang tidak hanya dilakukan oleh siswa, para oknum guru, tetapi juga kecurangan massal yang dilembagakan dan di “SK-kan” oleh para pengawas UNAS dari DIKNAS di daerah-daerah atas instruksi para petingginya?

Saya banyak mendapat kisah”nyata” cara-cara haram seperti itu dari para pelaku pendidikan itu sendiri. Sebagai contoh ada sebuah sekolah yang memberikan bocoran kepada para muridnya dengan menggunakan kode bunyi pengeras suaranya, membolehkan para siswa membawa hp untuk mencontek jawaban, menyebar anak-anak “pintar” pada mata pelajaran tertentu pada posisi duduk yang memudahkan teman-temannya mengakses jawaban, hingga para pengawas itu sendiri yang mendiktekan kunci jawaban beberapa menit sebelum UNAS selesai kepada para peserta.

Astaghfirulloh! Pembodohan macam apa yang sedang terjadi di dunia pendidikan kita ini? Mengapa para siswa yang biasa kita didik untuk berlaku jujur melalui pelajaran PKN, Agama, Budi Pekerti dan juga melalui prinsip integrasi IMTAK-IPTEk menurut kurikulum pada semua mata pelajaran lainnya, dalam hitungan hari kita “racuni” mereka dengan “pelajaran kecurangan , kebohongan, ketidakpercayaan pada diri sendiri? Mengapa kita ajari mereka untuk menjadi para “pencuri”? Mengapa pondasi kejujuran , kebenaran dan kepercayaan diri ini bersama-sama dihancurkan sendiri oleh para pendidik itu sendiri?

Bukankah ini akan menyebabkan kebingungan psikologis pada diri para siswa? Bukankah mereka akan terus hidup dalam dua nilai yang saling bertentangan? Bukan berarti mereka kita didik untuk menentang hati nurani mereka? Bukankah dengan jalan ini mereka akan melihat sosok para guru mereka sebagai sosok yang “licik”? Lantas, kemana perginya nilai-nilai kependidikan kita? Hanya untuk selembar kertas bertuliskan nilai UNAS?

Tidakkah terbayang betapa besar kerugian bangsa ini bila praktek-ptaktek kecurangan seperti ini terus-menerus berlangsung tanpa ada upaya serius untuk mengubahnya?

Bila kita mencermati masalah ini kita akan melihat bahwa akar permasalahannya adalah kebihjakan bahwa nilai UNAS dipakai sebagai barometer kelulusan seorang siswa, kredibilitas sebuah sekolah, iebih jauh lagi kualitas pendidikan di sebuah kabupaten bahkan propinsi! Sehingga muncul ketakutan-ketakutan dari kalangan pelaku pendidikan bila mereka dikatakan “gagal” menjalankan proses pembelajaran dan pendidikan pada umumnya.

Memang benar, UNAS bisa menjadi salah satu instrumen pengukuran kualitas pendidkan secara nasional yang efisien, namun mengingat sifatnya yang hanya mencakup beberapa mata pelajran tertentu dan lebih bersifat tertulis dengan option jawaban tertutup(multiple choices) maka pasti tidak akan bisa mengukur kualitas kompetensi semua mata pelajaran! Belum lagi kesamaan jenis soal yang cenderung disamaratakan untuk semua daerah dengan latar belakang sosial ekonomi yang bervariasi.

Dengan demikian, alangkah bijaknya jika UNAS dipakai sebagai salah satu input bagi pemerintah untuk memantau mutu kualitas pendidikan, namun tidak seyogyanya digunakan untuk “menghakimi” kelulusan siswa. Terlebih lagi mengingat wacana peandidikan terkini yang menggunakan pendekatan Multiple Intellegences (kecerdasan Jamak), bahwa masing-masing individu siswa mempunyai keceredsasan spesifik yang unik yang tidak dapat disamaratakan, maka konsep kelulusan yang hanya mengandalkan nilai tertulis untuk beberapa mata pelajaran ini tak elak lagi harus ditinjau ulang. Belum lagi munculnya “hegemoni’ mata pelajaran-mata pelajran UNAS yang dianggap lebih penting untuk dipelajari, menyebabkan anak salah konsepsi tentang ilmu. Bukankah semua ilmu yang bermanfaat penting untuk dipeljari demi menunjang kehidupan mereka kelak?

Nah, lho. jadi gimana dong? Masihkah kita harus mendewa-dewakan nilai UNAS? Haruskah kita mengorbankan strategi belajar dan mengajar yang inovatif, variatif, mengoptimalkan kompetensi riil anak, dengan drilling soal-soal untuk mempersiapkan mereka mengikuti “Ujian Kebohongan Nasional?”

Wallhu a’lam Bis Showaab.

Terrorism! Outch! You know that this term has been so popular since September 11″s Bali blast! From this tragic disaster, then, appeared the other new term: Terrorism in Islam. As you heard from the news that it were some Muslim activists who were accused as the ones who were involved on the blast. Soon, some “Islamic” names became very famous, like: Amrozi, Imam Samudra, Ali Imron, Hambali and other new ones.

And, this issue seems going on and on. Under the umberella of Dansus 88 specific brigade the capturing of those “so called Islamic terrorists” get vigourously done. We can watch on TV that every terrorism news will always be “decorated” with the appearances of long-veiled women being interviewed, Islamic names mentioned and the “manuals” for making bombs to do “Jihad”.

What do you think of this kind of news? Do you really believe in it? Let’s share our opinions!

As a Muslimah (a Muslim woman) I do wear my long veil. To tell you the truth sometimes I feel so annoyed on hearing such news. Why? Because I think that this kind of news has been presented on mass media so bombastic without any balancing information of the issue. Can you notice how much fair news or life debate shows presented on those stations?

I believe if TV stations are eager to present the news in a fair way, may be by interviewing various information sources, I think this issue will be better understandable by our citizen. Have you ever watched the hystory of terrorism, for example? Have ever known the reason of why those so called Islamic terrorists doing those bombing?In short, have we ever tried to understand this case in a thorough point of view?

I do disagree with this kind of brutal actions! I do because I am a Nuslim. I do know that my rekigion never teaches his followers to kill innocent or civil people. My religion do permit its followers to kill the enemies on battles! We must not kill women, old people, children, even cut down trees and break worshipping buildings such as churches, sinagogs, temples etc!

I do know that Jihad in my religion is the word which is very saccred and noble. Jihad is dedicated to get tortured people free. Wars are only permitted when Muslims are being attacked by enemies. And if the enemies do offer peace ,then, Muslim must stop the wars!

I do know, that in Surah Al Insaan, Alloh teaches us to give captives/prisoners good food like what we eat, and should treat them politely! I do know that my Prophet teaches me to shelter and keep other religious believers well if they want to hold the peace agreements!

So, why are all these truths hidden? Why are most of terrorism actions related to Islam?

I think, there is a very” powerful side” which has something to do with this issue! They try to burn God’s light down! They want to hide the truths by which they will be able to lengthen their imperium on the world!

But, I believe that by thinking logically we will find any falacies from the news. I do not deny that may be Amrozi c.s. are controlled by such a secret and hidden movement which remote their actions. This secret and hidden movement has been made use of Amrozi and friends’s Jihad spirit to do those bombings. Can you estimate how big and powerful the bomb exploded on the Bali blast? Could Amrozi and his gang make it by themselves? Have you even known that there were thousands of specific people were not on their offices during the WTC bombing? Why were they safe from that disaster? From whom did they know the bomning plan? Who are they actually? Wallohu a’lam? Only God knows.

I just want to share what I have been feeling to you! I know that I should not have felt so annoyed, because I do know what Islam teaches me! I should have let this issue pass away from my mind for I do know that this case is just ” a carefully and neatly designed globalgame”! But, deeply in my heart I know that a Muslim should not make enemies but if they are facing the enemies they must not run. They must face it and should show the truth! May my anxiety becomes a sign that I do love my God and His Prophet! Amin.

Wa maa arsalnaaka illaa rohmatan lil “aalamiin! Indeed, we do send you Muhammad (as a messenger)to human race as a blessing for the universe!

Wallohu a’lam bis showaab.

Recently I feel so annoyed by my students’ behaviour. I feel that from day to day it becomes more and more difficult for most of them to get concentrated on what I teach? As a teacher, I directly ask myself; whether my teaching style is not so interesting for them, or, is the material too “tough” for them?

But, beside those technical things, I realize that now my students are in a very unsupporting atmosphere to be ” good” students. They have to defend theirselves againts so many kind of amusing entertainments! Just look at most of “sinetrons” and relity shows presented on TV stations which always offer them with “passionate and romantic stories”. Those shows inevitably stimulate our generation to think their love affairs better than their duty as students! Moreover, now, most of them have hand phones by which they can communicate” secretly and savely”without being known by others, even by their own parents or teachers!

So, can we know what are being written on their HPs? Can we, as teachers or parents, always monitor what they watch on TV, even what they access through the internet? Most of electronic media now offer 4S and4F programs. They are programs which are related to sex, smoke, sports and songs. And also the other 4F i.e. food, fashion, faith and fun.

What’s wrong with those programs? Those programs tend to make our teenagers forget their real goals, whether the short term or the long ones. They will be busy thinking about their physical performances to attract their opposite sexes, they will memorize more famous love song lyrics rather than their school materials. They will be busy collecting their favourite sport players’ photos, watching their favourite teams, even watching the plays on spot. They also go to big malls to consume junk food because of its prestige!

How much money will also be begged from their parents to equip them with most up to date handphones and motorcycles? And, how much time spent by them in night clubs or cafes just to “hang out”?

O, God! I think, we, teachers, have always been trying our best to educate them. We have been playing our roles not only as teachers but also as motivators, tutors, guides and preachers. And, so far we have been trying to be their mothers and fathers at school who always remind them the straight ways they should choose!

But, I realize that it is not me, as one of teachers, who hold their hearts! It is Alloh who will give his light to any one which he wants. I just pray to God , may they will be good students, and be next good generations. And the other most important things are that I should be more creative in teaching and not bored in facing such challenges. Insya Alloh!

“Wa man ahsanu qoulan illaa man da’a ilalloh!” Who is better than a person who is always ask others to God!”!

Wallohu a’lam bis showaab.

MERASA CUKUP

Merasa cukup itu baik, lho! Eh, entar dulu! Cukup pada hal apa dulu dong. Kalau merasa cukup dengan harta yang kita miliki, atau merasa cukup dengan satu istri( he…he..he) karena takut tidak bisa berlaku adil, atau merasa cukup untuk memelototi kesalahan diri tanpa melirik-lirik kesalahan orang lain itu sich namanya Qonaah(rasa cukup) yang benar. Namun akhir-akhir ini saya bertemu cukup banyak orang yang “merasa cukup” yang tidak pada tempatnya!

Seorang rekan teman guru berkeyakinan bahwa ia sudah merasa cukup dengan apa yang telah ia lakukan selama ini: datang ke sekolah, mengajar sesuai buku paket, menyampaikan materi dengan metode “nyerocos” dari hari ke hari….itu dan itu yang setiap hari ia lakukan. “Loh, itu kan memang tugas guru, tho?”, mungkin Anda berkata dalam hati. Iya sich, namun bila semua guru berpikiran sama dan merasa nyaman dalam “zona nyaman” mengajar seperti itu bisa kita bayangkan akibatnya dalam dunia pendidikan kita. Apalagi bila yang berpikir dengan pola yang sejenis adalah seorang kepala sekolah atau seorang pengelola lembaga pendidikan atau lebih tinggi lagi kepala dinas atau mentri pendidikan kita, waduh……parah dech!

Dan saya mencermati bahwa penyakit “merasa cukup” ini rentan menghinggapi sekolah-sekolah (Islam) unggulan yang sudah cukup “berumur”. Setelah mendapat predikat “trend setter, pelopor, pilot project, atau predikat sebangsanya, bisa menjadikan “nina bobo” bagi sekolah-sekolah tersebut. Ketika kita merasa sudah cukup, sudah baik dan terdepan maka di sinilah potensi muncul mandegnya kreativitas, inovasi dalam kiprah dan kinerja kita. Hal ini juga memicu semakin berkurangnya keberanian untuk mengambil resiko demi menapaki tangga kemajuan berikutnya.

Padahal, ketika kita mau melihat “dunia luar” di jaman globalisasi ini, kita akan semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dalam hitungan detik! Inovasi-inoasi dalam dunia pendidikan selalu dan selalu hadir di hadapan kita. Ketika seorang guru mau keluar dari “zona nyamannya” dan mau sedikit melirik perkembangan metode-metode mengajar, filosofi dan inovasi kontemporer dalam duia pembelajaran, maka tak ayal lagi perubahan pola sikap guru dalam usaha mandirinya mengembangkan diri itu akan membawa pengaruh besar pada “dunia proses belajar-mengajar”secara umum. Tiap-tiap kelas akan merasakan hawa segar dalam proses belajar dengan diterapkannya metode-metode variatif yang kreatif dan inovatif disertai pendekatan yang lebih sesuai dengan psikologi anak didiknya. Wal hasil para siswa akan lebih merasa senang belajar dan tentu ini akan berdampak positif pada pencapaian mereka.

Arti penting peran guru ini pernah ditegaskan oleh mantan predsiden Amerika John F. Kennedy ketika menanggapi ketertinggalan Amerika dari Uni Soviet dalam teknologi penerbangan luar angkasanya waktu itu, ia langsung bertanya: “What’s wrong with our classes?”. Dari pertanyaan ini menggeliatlah pedidikan IPTEk Amerika hingga akhirnya di tahun 1969 Amerika sudah bisa mendaratkan para astronotnya di bulan.

Selanjutnya, jika para kepala sekolah dan pengelola lembaga pendidikan mampu untuk lebih “rakus” terhadap kemajuan pendidikan, maka mereka akan lebih bersifat terbuka terhadap perkembangan IPTEk. Ini akan berpengaruh pada kebijakannya dalam menanggapi perkembangan dunia pendidikan di luar lingkup sekolahnya dan tidak segan-segan mengalokasikan waktu dan dana untuk meng up- grade dan memobilisasikan SDM yang ada di lingkungannya menjemput kemajuan tersebut untuk diterapkan di lembaganya. Lebih lanjut mereka akan mampu mendelegasikan dan mengorganisasikan potensi SDM yang ada di lingkungannya dan menempatkan tiap-tiap personal pada keahliannya.

Maka, selayaknya kita harus berusaha untuk bisa menjadi “gelas-gelas” kosong yang mampu mengambil hikmah-pelajaran ilmu yang baru dari lingkungan sekitar kita, meski sekecil apa pun dan mungkin ilmu itu “hanya” dititipkan Alloh melalui rekan sejawat kita sendiri.

Dan perlu kita ingat bersama bahwa kita akan selalu berjalan di tengah masyarakat luas dunia pendidikan yang selalu bergerak dan berpacu untuk menjadi yang terbaik! Jika kita sudah “merasa cukup” dengan apa yang kita miliki sekarang, maka tidak mustahil kita akan ditinggalkan dan hanya akan berjalan terseok-seok mengejar ketertinggalan kita.

Bukankah Rasululloh selalu memacu kita untuk senantiasa menjadi lebih baik dari hari kemarin? Mengambil hikmah di mana pun dan kapan pun sebagai hak seorang Muslim yang terserak? Begitu jugalah dalam dunia pendidikan yang menjadi ladang dakwah kita dewasa ini.

Berubah untuk jadi lebih baik dan maju? SIAPA TAKUT!

Wallohu a’lam bis showab.

“INDUSTRI” RAMADHAN

Sudah  menjadi pemandangan umum di dunia media massa kita, baik cetak maupun elektronik, untuk beramai-ramai dan berlomba-lomba menayangkan acara-acara yang “Islami” selama bulan Ramadzan. Dari munculnya album-album lagu religi yang semakin banyak dilirik para musisi dan grup band tanah air untuk dijadikan “senjata’ mereka merebut pasar Ramadzan, juga tayangan-tayangan sinetron berseri maupun lepas yang seribu satu jenisnya namun hanya beberapa saja yang berkualitas dan menjaga nilai estetis dan kualitas sinematografinya, hingga tayangan-tayangan menjelang berbuka dan sahur yang banyak “menyewa” para artis ternama dan pelawak yang secara “sim salabim” tampil sholih dan santun.

Mungkin muncul dalam benak Anda sebuah komentar;”Emang, apa ada ang salah dari tren in? Bagus, kan, tayangan-tayangan tersebut kan mendidik, menghibur dan pas dengan bulan puasa, kan?”

Memang, di satu sisi kita patut bersyukur bahwa paling tidak sebulan dalam satu tahun media massa kita tampil lebih  ‘Islami dan sopan” dibanding biasanya yang penuh dengan pengumbaran aurat wanita, pornoaksi dan pornografi. Namun tidakkah pembaca cermati bahwa bagaimana pun nuansa dan aroma “bisnis” tetap kental dalam tayangan-tayangan tersebut. Sudah menjadi rahasia umu bahwa indeustri pertelevisian, khususnya akan selalu mengedepankan selera pasar, rating yang tinggi dalam setiap pemilihan programnya. Demikian pula selama bulan Ramadazan ketika mayoritas pemirsa Muslim di tanah air berusaha untuk menjadi lebih “alim” dari ke-11 bulan yang lainnya, maka mau tidak mau mereka pun menciptakan “produk-produk” yang marketable. Tetapi, tahukah Anda, bahwa mereka akan lebih memilih para “dai dadakan” yang tampil dalam wujud para artis dan pelawak yang lebih menghibur penonton dari pada para Dai yang setiap harinya bergelut dengan dunia dakwah umat. Otomatis “honor” yang lebih tinggi pun tak segan-segan mereka berikan kepada para dai dadakan ini, asal tayangan mereka terus diminati dengan rating tinggi. Lihat saja, menjamurnya tayangan komedi pra buka dan sahur yang banyak mengusung para pelawak dan artis dengan banyolan-banyolan yang lebih bersifat “laghwun” (omongan-omongan simpang-siur yang kurang bermanfaat). Belum lagi busana para artis perempuannya yang uga sebagian besar tetap tidak menutup aurat. Namun karena ratingnya yang tinggi, para sponsor pun akan berduyun-duyun menitipkan “dakwah” mereka agar produk mereka semakin dibeli pemirsa.

Jadi, di mana dong posisi para penceramah di TV-TV itu?

Dengan sangat terpaksa saya katakan bahwa mereka tak ubahnya hanya berperan sebagai “lipstik” saja bagi program-program komersial mereka. Bukti yang lainnya adalah pemilihan mereka pada “jenis-jenis” dai yang mereka tentukan: meski belum banyak membuktikan perannya dalam memecahkan masalah umat dan dengan kapasitas keilmuan minimum, namun bila sosoknya “nyelebritis” dan menjual maka merekalah yang akan di”orbitkan” melalui program mereka.

Tentunya kita masih ingat peristiwa yang dialami oleh Aa  Gim, bagaimana Beliau dicampakkan media massa setelah menikah untuk yang kedua kalinya. Melanggar hukum agamakah beliau? Berzinakah Aa? Namun itulah media massa menjadi hakim yang paling ampuh. Sebaliknya, media massa semakin menjadi alat untuk “mengorbitkan” seorang tokoh atau selebritis yang bernilai”jual” tinggi.

Itulah, ternyata nilai komersial dan ruh industri yang berbungkus tayangan-tayangan “Islam” patut kita cermati dan kupas dengan lebih mendalam. Dan mungkin akan lebih bijak bila Ramadhan ini kita isi dengan aktivitas mengkaji ilmu ke-Islaman, tilawah Al Quran dan aktivitas lain yang lebih bernilai pahala.

Wallohu a’lam bis showaab.

Suatu hari di siang hari yang amat terik, saya berjalan dengan lemas menuntun sepeda saya yang bocor ban belakangnya. “Wah, benar-benar ujianku hari ini,”desisku dalam hati. Mataku berkelebat ke kiri dan ke kanan jalan sambil sesekali bertanya pada para tukang becak dan ojek yang mangkal di situ di manakah tukang tembel ban terdekat. Akhirnya, setelah kurang lebih lima belas menit berjalan, aku menemukan sebuah bengkel tambal ban. Dengan penuh semangat kupercepat langkah agar segera banku ditambal. Maklumlah akuseudah terlambat sekali menjumput anakku yang bersekolah di TK! Namun, ternyata di situ sudah ada dua orang “pasien ‘ lainnya yang menunggu, salah satunya adalah seorang bapak seumur ayahku. Sejenak kuperhatikan sikap bapak itu tampak begitu acuh dan ada nuansa curiga pada pandangan matanya kepadaku. Kusapa bapak itu dengan bahasa jawa terhalusku;”Bocor, nggih, Pak?” Dengan ketus ia menjawab;”Nggih”. Selanjutnya saya berbasa-basi menceritakan sekilas latar belakang saya. Saya katakan saya seorang guru di salah satu SMP  swasta di Tulungagung.

Kemudian, tanpa saya sangka bapak tersebut mulai “banyak” bicara. Dia bertanya;” Panjenengan ngendikan kaliyan kula mboten napa-napa, tho?” ( Anda berbincang dengan saya seperti ini tidak apa-apa,tho?)

Sejenak saya terhenyak.Kulanjutkan bertanya:”Memang kenapa,Pak?” Kemudian bapak itu  menceritakan  kejadian beberapa waktu sebelumnya. Waktu itu ia kebetulan  menjumpai sebuah kecelakaan di jalan. Seorang “akhwat” (wanita) berjilbab dengan cadar dan kerudung besar dan panjang hingga di atas mata kaki terjatuh dengan motornya di belakang sebuah truk. Baju dan jilbabnya terkoyak dan sobek di sana-sini. Bapak itu mencoba menolong si Akhwat dengan mengulurkan tangannya dan menawarkan baju pinjaman. Namun si Akhwat malah menolak. Akhirnya si bapak tadi meninggalkan si Akhwat di tengah jalan tadi dengan bajunya yang terkoyak-koyak tadi.

Bapak tadi juga menceritakan bahwa anak tetangganya ,seorang Ikhwan (laki-laki) biasa “berdiam”di masjid dan tidak mau bekerja . Sehari-hari aktivitasnya hanya sholat dan baca Al Qur’an. Lain lagi ceritanya tentang   seorang aktivis da’wah yang memalsukan data pemerolehan bantuan sarana masjid  dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi! Ia juga berkomentar terhadap debat tentang bacaan “Basmalah”  yang tak kunjung  usai: apakah dibaca keras atau pelan pada sholat berjamaah?  Belum lagi komentar bapak itu tentang aksi-aksi terorisme yang kadung dicapkan pada para aktivis Muslim

Wah, aku terhenyak dan menahan napas. Kenapa semua pendapatnya tentang Islam serba miring begini?

Akhirnya kukeluarkan jurusku dengan berbincang bahasa Jawa sehalus mungkin disertai bumbu-bumbu kekagumanku pada generasi bapakku! Pelan-pelan kuimbangi persepsi bapak tadi dengan apa yang aku yakini selama ini. Kukatakan bahwa memang bercadar itu adalah salah satu hasil ijthad madzhab Syafii, namun ada juga madzhab lainnya yang tidak mengharuskan bercadar. Namun semua jumhur ulama sepakat bahwa hukum menutup aurat itu wajib. Hanya bentuk mode jilbab saja yang bisa disesuaikan dengan budaya setempat! Kukatakan juga bahwa seorang muslimah pun boleh berkiprah di masyarakat seperti menjadi guru, dokter dan profesi yang lainnya asal tidak bertentangan dengan norma syara’(aturan pergaulan menurut Islam). Saya tambahkan kepada si bapak bukankah  Rosul pernah bersabda bahwa sebaik-baik di antara umat Beliau adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya?

Sementara itu tentang perbedaan cara membaca Basmalah dan kaifiyat(tata cara) ibadah yang lainnya saya katakan itu hanya terbatas pada masalah yang kecil/furu’/cabang atau yang sunnah saja. Perbedaan-pervbedaan seperti itu di kalangan umat Islam tidak sampai menyebabnya “lahirnya agama baru” seperti yang terjadi di kalangan umat Kristriani , yaitu timbulnya berbagai aliran di antara mereka yang akhirnya melahirkan agama-agama seperti Kristen ortodoks, Katolik, Anglikan, dan lain-lain yang dalam prinsip-prinsip ketuhanan yang diyakini juga tata cara paeribadatannya antara satu dan yang lainnya amat sangat berbeda!

Terorisme? Wah …sereem sekali rasanya membahas tentang ini! Apalagi dengan peran media masa yang hampir bersama-sama ibarat paduan suara menjadi corong “Barat” untuk melabelkan tindakan itu pada para “aktivis Islam”. Dengan contoh sederhana saya ambil satu kisah sederhana hijrah Rasul ke Madinah. Ketika itu Beliau di buntuti oleh seorang kafir Syuroqoh bin Malik yang lantas menghunus pedang ke leher Rasul dengan sekonyong-konyong dan sekuat tenaganya. Namun waktu itu dengan wahyu Alloh Rasul mengetahui rencana jahat Syuroqoh dan berhasil berkelit menghindari serangan itu! Kemudian Rasul dengan sigap berganti mengambil pedangnya dan menghunuskannya ke leher Syuroqoh. Dengan penuh ketakutan akhirnya ia meminta maaf dan mohon dibebaskan oleh Rasul. Dengan penuh kasih sayang dan maaf yang tulus Rasul membiarkan Syuroqoh bebas dengan Islam yang sudah dipeluknya sebagai buah keluasan dan kasih sayang Nabi.

 Lantas, mungkinkah Islam mengajarkan terorisme, membunuh orang-orang yang tidak bersalah, orang-orang sipil dalam keadaan tidak berperang, hanya karena atas nama Jihad/berjuang di jalan Alloh? Orang yang berakahl tentunya bisa mengambil hikmah dari contoh tindakan Rasululloh ini!

Bahkan di lain waktu Rasul berkata bila ada seseorang menyakiti orang non Muslim yang mau hidup berdampingan dengan damai, maka ia berarti telah menyakiti Rasul!

Saya kembali merenung! Begitu banyak PR umat untuk diselesaikan! Begitu banyak kesalahpahaman dan kesalahan sikap umat Islam dalam memahami dan mengamalkan Dien-Nya. Namun di balik itu semua saya tetap yakin bahwa Al Islaamu ya’lu wala yu’la ‘alaih: Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam!

Wallohu a’lam bisshowab!

I started asking about the using of handphones by our teenagers when once I asked one of them the price of her handphone. I was surprised to know that it was more than one and a half million! It is much more than my salary as her teacher! Then, I was more surprised to know that the student mainly used her handphone to send a lot of “love sms” to her boyfriend until late night everyday! How much money should be spent by her parents to buy “Pulsa” the credits of the phone? How much learning time will be taken away from the student? Furthermore, I become so sad knowing that there are so many handphones misused by our young generations. One day I found a lot of boys “flocked” together among a small handphone and they seriously observed “something” from their one cute handphone. Finally I was very ashamed to know  what they were “contemplating”: It was a very porno picture! Another day, some teachers complained to me about his class case. He found that some girls sent their “hot” photographs to their boy friends via their HPs!

Considering the bad effects of having HPs for our young generations allow me  to give some suggestions:

1. For parents: Some naughty actions done by our children are not merely their mistakes. Sometimes parents unconsciously contribute an lead their own chidren to dangerous conditions. They give too much “pocket” money and facilities such as most modern and expensive handphones, cars, villas to visit and others without giving enough supervision. Finally those kind of children feel that all of those faciities replace their parents’ care and love to them. Inevitaby, they misused all of those “loving’facilities.

 So, I suggest that parents should: #.Spend mauch more valuable time to assist and communicate to their children and make them understand the function of the facilities and plant to the children’s mind the importance of money and time.

#. give facilities according to the function of the facilities. If the child needs a HP “in the name of his/her need to communicater with parents”, so just buy him/her a modest /simple one HP that makes them able to communicate, although they can afford for other 3Gs HPs! If they can go to school by foot ,why should give them motorcycles? If their schools have given them lunch, why should give them exrtra accomodational pocket money?

2. To teachers

I think persuading the children to be open with us is much more efficient then just being angry with them. We should talkto them with their language, trying to “peep ” their world. By being their “friends” we will be able to give any directions to make their way straight.

3. To students/teenagers

Ask your own heart, have you used your handphone and other facilities wisely so far? Have you been asking how hard your parents so far affording you with those facilities? Have you contemplated how many teenagers, may be millions, cannot enjoy education with such luxurious facilities like yours? Finally, have you been thinking what have you done so far for your future, both in this not eternal and for your here after life? Let’s find the answers in your honest heart!

Wallohu a”lam bis showaab.

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »