“Mi, belikan terompet, Mi…..murah, kok!”, rengek ankku di sebuah sore ketika kami melintasi deretan para penjual terompet musiman akhir tahun. Yah, memang di samping kembang api dan bising suara motor yang dibuka knalpotnya, terompet termasuk salah satu “benda” paling ngetop di akhir tahun.
Kupegang pundak anakku dan kutatap matanya dengan penuh kasih, dan mulailah sebuah kisah meluncur dari bibirku.
Alkisah ketika para sahabat mengusulkan cara untuk memanggil mereka berkumpul untuk mengerjakan sholat di masjid, di antara mereka ada yang mengusulkan suara loncenga, tembakan api dan juga terompet sebagai tanda masuknya waktu sholat. Namun Rosululloh menolaknya dan mengatakan bahwa itu semua merupakan adat istiadat orang-orang Nasrani, Yahudi dan Majusi. Hingga akhirnya Rosul memilih Bilal untuk mengumandangkan Adzan sebagai penanda masuknya waktu sholat.
Apa yang salah dengan lonceng, terompet dan api?api?
Ternyata Rosul mengajak kita untuk mellihat sesuatu lebih dari sekedar dzohirnya saja, namun lebih dari itu nilai dari sesuatu itulah yang harusnya lebih menjadi perhatian kita. Benda-benda yang diusulkan para sahabat tadi merupakan representasi budaya, ciri khas dan pencitraan dari akidah para pemeluknya, sehingga Rosul ingin menekankan bahwa kita sebagi umat Islam harus mempunyai kepribadian yang khusus yang menandai bedanya budaya, gaya hidup dan yang paling utama adalah akidah kita.
Seorang Muslim hendaknya selalu jeli melihat simbol-simbol budaya yang senantiasa ditawarkan kepada kita, mencari tahu historis dan nilai makna darinya.
Namun, bila kita lihat dewasa ini begitu banyak “lonceng-lonceng, terompet-terompet dan berbagai jenis api” berupa gaya hidup dan produk budaya yang tanpa reserve ditelan mentah-mentah oleh kaum Muslimin.
Bunyi terompet yang ditiup bersamaan pada jam 12 malam dan ramainya klub-klub hiburan, hotel-hotel dan tempat-tempat hiburan dengan berbagai acaranya hanyalah bagian kecil dari “sosialisasi” mereka untuk menhapus atau setidaknya mengkaburkan identitas kita sebagai Muslim.
Sepertinya kita para pendakwah dan pendidik ini sudah harus siap lagi menghadapi even terdekat berupa “Valentine’s Day” yang merupakan “terompet” selanjutnya yang menggoda generasi kita.
“Man tasabbaha bi qoumin fahuwa minhum!”
“Barangsiapa meniru-niru adat suatu kaum, maka ibaratnya mereka itu adalah bagian dari mereka”
Jadi, masihkah suara terompet itu berarti untuk kita? Teeeet…teeeet….teeeeet!????
Wallohu a’lam bis showab.
Terompet dan Tahun Baru
Januari 2, 2009 oleh abuharokan