“Wah, selamat ya!”, kudengar ucapan itu bersahut-sahutan, silih berganti dari mulut teman-temanku, wali murid dan hampir semua orang yang kukenal. Yap, hari itu tanggal 16 Desember aku barusan datang dari pulang dari perjalananku de Surabaya dan baru sampai di rumah jam 12.30 pagi! D iantara rasa kantuk dan capek kucoba terus tersenyum dan ceria di depan mereka.”Wah, selamat ya ketrima CPNS!”. Kusambut uluran tangan mereka dan kubalas dengan senyum terindahku.
Sebenarnya saya sudah mendapatkan berita itu ketika aku masih dalam perjalanan menuju Surabaya, namun karena hanya via sms, saya belum percaya betul. Konsentrasiku tetap pada acara KPI yang akan aku ikuti……sampai aku pulang pukul 12.30 dini hari.
Namun, akhirnya saya penasaran juga. Iseng-iseng saya dan suami muter-muter kota Tulungagung dini hari itu juga tuk mencari koran pagi itu, namun….hasilnya nihil. Saya tetap belum percaya!
Akhirnya, seberkas koran yang sudah agak lusuh tertanggal 15 Desember 2008 sampai juga ke tanganku. Kumainkan jari manisku mencari namaku di lembar pengumuman seleksi CPNS itu….dan…ternyata benar namaku tercantum sebagai salah satu yang dipanggil untuk pemberkasan!
CPNS, yah kata itu begitu mewakili harapan beribu-ribu bahkan berjuta banyak orang di negara ini. Dan aku telah membuktikannya. Di Tulungagung saja ada sekitar 9526 pendaftar dan sekitar 8000 yang mengikuti tesnya. Sedang yang diterima hanya 300 an orang saja.
Dan…….ternyata Alloh menghendaki aku termasuk diantara ke 300 an orang itu. Senang, haru, rasa ingin tahu dan tertantang bercampur aduk dalam pikiran dan perasaanku. Mengapa demikian?
Selama 12 tahun terakhir ini saya berkiprah di dunia pendidikan yang bernafaskan Islam, yang homogen kata orang. Nuansa Islami begitu kentalnya! Aroma dakwah untuk Li i’la kalimatillah “meninggikan kalimat Alloh” secara eksplisit mewarnai kegiatan belajar mengajarku. Lantunan ayat-ayat Quran setiap hari terucap bersama murid-muridku.Rujukan dalil-dalil naqli senantiasa menjadi sandaran pemecahan masalah di sekolah dalam menasihati anak-anakku.
Namun, di hari-hari esok saya harus berani merambah medan dakwah yang lebih heterogen, berinteraksi dengan lebih banyak manusia dengan beragam visi dan misi hidup. Dan meninggalkan “zona nyaman” itu.
Dalam hati aku merasa berat meninggalkan sekolahku, namun seorang teman membesarkan hatiku. “Saudaraku, ini akan menjadi ladang dakwah baru bagi njenengan, berapa ratus, ribu bahkan jutaan generasi Muslim yang menimba ilmu di sekolah-sekolah negeri! Siapa yang akan mewarnai mereka? Cukupkah 2 jam pelajaran agama bagi mereka tanpa ada “contoh-contoh hidup” di sekitar mereka dalam mengamalkan Al Islam? Alloh telah memilih Antum mengembangkan dakwah bagi mereka!”
Dorongan tadi membuatku merenung. Memang jauh yang dipikirkan banyak orang, bahwa formasi PNS hanya dipandang dari segi peningkatan kesejahteraan secara finansial saja. Padahal sebagai seorang Muslim kusadari setiap langkah dalam hidup harus dilandasi dengan motivasi yang tulus, niat yang lurus dan ikhlas. Termasuk ikhtiarku mengikuti “perhelatan” Nasional itu.
Memang dengan diterima CPNS mungkin kesejahteraan seseorang akan bertambah, namun sebagai seorang Muslim kita harus yakin bahwa rizki yang kita terima bukanlah dari hasil kerja kita namun pemberian dan amanah dari Alloh yang telah ditentukan kadarnya olehNya.
“Wamaa min daaabbatin fil ardzi illa ‘alalloohi rizquha“..
Jadi di mana pun kita berkiprah dalam dakwah lewat dunia pendidikan ini hanyalah sebagai wasilah datangnya rizqi sebagai sebuah jalur ikhtiar yang akan dinilai Alloh derajat usaha kita dalam menjemput pemberianNya.
Jadi manusia hanya berkewajiban untuk berikhtiar mencoba mencari jalan bertemunya rizqi yang terbaik baginya, namun, takdir Alloh jua yang akan berlaku.
Kupikirkan lagi rencana langkahku ke depan menjemput lahan dakwahku menyambut wajah-wajah baru, anak-anakku, generasi penerus umat di sekolah negeri yang hanya menndapat jatah 2 jam pelajaran Al Islam.
In uriidu illal ishlah mastato’tu……..
Semoga keberadaanku akan membawa maslahat bagi generasi ini, amin.